Lowongan Kerja Terbaru Update Informasi Lowongan Pekerjaan

KETIKA TIDAK MEMILIH MENJADI SEBUAH PILIHAN

Pernah saya mendengar suatu ungkapan

Jangan pernah diam atau tidak menyikapi suatu keadaan, namun kita dapat menyikapi suatu keadaan dengan diam.

Menjelang pemilu kali ini ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya jumlah partai yang kembali berubah atau pemilihan secara langsung untuk anggota legislatif, namun juga maraknya fenomena “Golput” atau orang yang tidak menggunakan hak pilihnya. Ancaman akan adanya aksi golput banyak terjadi di daerah-daerah di Indonesia. Oleh pemerintah fenomena ini ditanggapi sangat serius, entah karena adanya kepentingan beberapa orang partai atau golongan, atau memang karena ingin seluruh rakyat ikut berpartisipasi dalam pemilu kali ini. Pemerintah melalui MUI melarang warga negara terutama yang beragama Islam untuk golput dalam pemilu.

Mungkin kita bisa menduga adanya kekhawatiran pemerintah akan jumlah suara yang akan terkumpul. Dengan adanya batasan minimal berapa persen dari jumlah pemilih untuk mendapatkan kursi, fenomena Golput akan sangat mengkhawatirkan kelangsungan pemilu. Aturan main seharusnya diganti, bukan prosentase dari jumlah pemilih namun dari jumlah suara sah, sehingga banyak sedikitnya pemilih yang golput tidak akan berpengaruh pada kelangsungan pemilu. Mudahnya seperti ini, jika presiden terpilih harus memiliki separuh lebih dari jumlah pemilih, maka dengan banyaknya orang yang tidak memilih akan menghilangkan banyak suara. Misal, dengan jumlah pemilih seratus orang, Jika harus memiliki separuh lebih dari jumlah pemilih yang ada maka berarti harus memiliki suara sebanyak 51 suara. Jika jumlah golput 60 orang, maka presiden tidak akan pernah didapatkan. Berbeda jika separuh lebih dari jumlah suara sah. Walaupun yang menggunakan hak pilih hanya lima orang, presiden akan tetap bisa didapatkan dari pemilu tersebut.

Kembali pada permasalahan golput diatas. Pemilu kali ini diprediksi oleh banyak pihak bahwa akan banyak orang yang tidak menggunakan hak suaranya. Banyak hal yang menyebabkan banyak orang untuk tidak ikut serta dalam persa demokrasi ini.

1. Golput karena sudah bosan dengan pemilu yang dianggap tidak memberikan keuntungan bagi dirinya

2. Golput karena sudah muak dengan janji-janji politikus dan partainya yang pada kenyataannya tidak pernah ditepati

3. Golput karena tidak tahu harus berbuat apa dengan keadaan yang seperti ini

4. Golput karena tidak ada pihak yang memberikan nilai untuk suaranya

5. Golput karena tidak memiliki pengetahuan yang baik terhadap partai dan atau orang-orang di dalamnya dan mungkin ini akan dapat bertambah lagi.

Pada dasarnya golput dapat di bagi atas duakelompok besar yakni golput karena tidak tahu dan golput karena tahu. Golput karena tidak tahu yaitu orang-orang yang tidak memilih karena mereka sudah bosan untuk ikut pemilu, atau tidak adanya nilai suara mereka (politik uang). Atau dapat juga orang-orang yang sangat sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga tidak ada waktu lagi untuk mengikuti pemilihan umum.

Golput karena tahu yaitu, orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya karena tidak memiliki calon yang baik yang menurutnya pantas untuk dipilih. Orang-orang dari golongan ini biasanya mereka sadar untuk ikut serta dalam pemilihan umum. Namun mereka bingung untuk memilih karena terlalu banyaknya pilihan. Selain itu pilihan yang ada juga belum bias dikenali dengan baik. Orang-orang dari golongan ini mungkin sudah berusaha untuk mengenal nama-nama yang ditawarkan. Namun karena banyaknya nama, menjadikan mereka kebingungan untuk membandingkan secara dalam guna mendapatkan pilihan yang baik.

Pada pemilu kali ini —dengan adanya pemilihan langsung— mungkin akan banyak golput karena tahu (saya berharap demikian). Jadi mereka golput karena mereka sudah berusaha untuk mencari tahu siapa saja yang maju dalam pemilihan kali ini, namun mereka tidak mendapatkan calon yang baik. sangat banyaknya orang yang menjadi caleg akan membuat kita bingung untuk menentukan pilihan. Jika kita asal memilih bukan tidak mungkin bangsa ini menjadi suatu taruhan. Jika akan memilih, kitapun sulit untuk menentukan pilihan. Tentu tidak adil jika kita menyingkirkan beberapa orang yang tidak diketahui, Padahal bisa saja orang yang tidak kita ketahui malahan orang yang baik untuk duduk pada pemerintahan.

Akhirnya, memilih atau tidak memilih menjadi pilihan bagi kita semua. Itu merupakan hak asasi manusia. Yang penting adalah bahwa kita harus memiliki alasan yang kuat untuk memilih pilihan-pilihan itu. Baik memilih ataupun tidak harus dengan suatu alasan yang kuat. Terakhir dan yang paling penting, marilah kita mulai dari diri kita sendiri untuk memulai segala sesuatu dengan niat yang bersih dan dengan cara yang baik guna mencapai kehidupan berbangsa yang lebih baik di kemudian hari.

tulisan ini di tulis oleh temen dekat saya Awaludin Indra Waskita.

Lowongan Terkait:

  1. Wajah DPR Indonesia di Mata Rakyat Baru-baru ini ada di sebuah head line di suatu surat...
  2. Blogging dan Sosial Networking Menjadi Ladang Politik Rasannya dunia blogging dan sosial networking di Indonesia sudah tidak...
  3. Fenomena Preman dan Gepeng Di Indonesia Pagi ini sebuah stasiun telivisi swasta mengangkat sebuah topik berita...
  4. Manfaat teknologi Internet dan dampaknya Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa teknologi internet sangat membantu perkembangan...
  5. 7 etikabikin facebook-an dan sosial networking biar nyaman Beberapa waktu lalu muncul kasus pria membunuh istrinya karena sang...
Diposting pada 03.14.2009 · Kategori Artikel Indonesia

One Response to “KETIKA TIDAK MEMILIH MENJADI SEBUAH PILIHAN”

  1. [...] MUI pun mengharamkan GOLPUT (fatwa yang ngawur), sebelumnya saya menulis sebuah artikel tentang “ketika tidak memilih menjadi sebuah pilihan”. di dalam artikel tersebut sangat jelas alasan-alsan mengapa kita warga negara Indonesia melakukan [...]

Leave a Reply

*